Jalantara

January 6, 2022

Workshop Bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Produk Ramah untuk Bumi kita

Dalam rangka memperkenalkan produk ramah yayasan jalantara bersama puslatmas dan PGL Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengadakan workshop gratis untuk masyarakat terutama komunitas penggiat lingkungan yang concern dengan penyelamatan lingkungan.

Melalui jejaring siriang.id kementerian KLHK memfasilitasi komunikasi dan networking serta profiling para penggiat lingkungan se-indonesia. Program yang sangat baik dalam rangka mengakselerasi dan meningkatkan hubungan antara sesama pejuang lingkungan. Puslatmas dan PGL kedepan akan terus meningkatkan pelatihan pengembangan produk dengan menggandeng banyak stakeholder termasuk yayasan dan riset institute seperti yayasan Jalantara yang membagikan hasil riset pengembangan produk ramah berbasis limbah.

Sekitar 100 peserta yang merupakan perwakilan komunitas ikut serta belajar secara daring cara mengubah limbah menjadi produk berkualitas. Dalam pelatihan dua hari ini yayasan jalantara mengajarkan formula dan teknik pengelolaan dan pengolahan limbah minyak jelantah menjadi empat jenis produk pembersih. Yaitu sabun cuci piring cair, sabun cuci tangan, deterjen pakaian dan pembersih lantai. Selain itu ada juga pelatihan mengenai maggot dari jenis BSF untuk solusi limbah organik dapur.

Produk yang dilatih akan diduplikasikan oleh peserta dikomunitas dan wilayah kota masing-masing. Variasi produk pembersih berbahan dasar minyak bekas pakai memiliki kulitas yang setara dengan produk umum yang ada dipasaran.

Diharapkan banyaknya jenis produk olahan minyak jelantah akan mampu memperbesar dampak serapan limbah ini sekaligus memutar ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Setidaknya ada 35 jenis produk olahan minyak jelantah menjadi produk berkualitas dan berguna bagi masyarakat sebagian besar adalah bahan pembersih, teknologi pertanian, bioplastik dan energi.

Dalam workshop ini diberikan pemahaman baru bahwa produk olahan limbah harus bisa memenuhi keinginan pasar sehingga produk yang dihasilkan dapat bermanfaat dan diserap secara baik serta memicu jalannya ekonomi sirkular yang sustain berdampak pada penyelamatan lingkungan.

Produk tidak harus selalu menjadi bahan utama namun dapat diserap sebagai condiment tambahan, pelarut, pengikat, dan chemicals agent seperti pemanfaatan gliserol sebagai agen plasticizer dalam pembutan bioplastik atau coating agent dalam polimer sulfur-based pada slow release fertilizer dimana minyak jelantah menjadi kopolimer hidrophobic yang memaksimalkan performa dan efisiensi zat NPK pada pupuk. Pupuk yang terbuang karena berlebih akan berubah menjadi gas rumah kaca. Tak heran penyumbang gas rumah kaca terbesar adalah dari sektor makanan. Salah satunya urusan pupuk ini.

Minyak jelantah juga dapat di modifikasi viskositasnya dengan melibatkan teknologi nano agar mampu tetap kental dalam suhu tinggi sehingga dapat memiliki performa sebgai bio-lubricant atau oli mesin.

Kedepan diharapkan lebih banyak lagi komunitas yang mau mengelola limbahnya sendiri melakukan kesadaran memilah sampah dan manajemen pengelolaan serta pengolahan berbasis komunitas akan menjadi kunci penopang keberhasilan kita menyelamatkan lingkungan dari perubahan iklim dan dampak buruk kerusakan alam.

Diharapkan acara yang diikuti banyak bank sampah dan komunitas masyarakat ini mampu menduplikasi produksi dan mengembangkan ekonomi sirkular dikota dan kabupaten masing-masing serta dapat mengajarkan ke komunitas terdekat agar ilmu ini bisa terus berkembang dan berdampak signifikan jika dilakukan secara nasional.

Tinggalkan komentar

Back to top